Sabtu, 19 November 2016

Profil Kh.musthofa bisri (gus mus)



Lahir : Rembang, 10 Agustus 1944
Agama : Islam
Jabatan: Pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah
Istri: Siti Fatimah
Anak:
1. Ienas Tsuroiya
2. Kautsar Uzmut
3. Randloh Quds
4. Rabitul Bisriyah
5. Nada
6. Almas
7. Muhammad Bisri Mustofa
Ayah : Mustofa Bisri
Ibu : Marafah Cholil
Pendidikan :
– Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo Kediri
– Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta
– Raudlatuh Tholibin, Rembang
– Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Karya Tulis Buku:
– Dasar-dasar Islam (terjemahan, Abdillah Putra Kendal, 1401 H);
– Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987);
– Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979);
– Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya);
– Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung);
– Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994);
– Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993);
– Mutiara-Mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994);
– Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995);
– Pahlawan dan Tikus (kumpulan puisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996);
– Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996);
– Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996);
– Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995);
– Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997);
– Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997);
– Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)
Organisasi:
Mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) periode 1994-1999 dan 1999-2004
Gus Mus Sang Kiyai Pembelajar
Kiyai, penyair, novelis, pelukis, budayawan dan cendekiawan muslim, ini telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia kiyai yang bersahaja, bukan kiyai yang ambisius. Ia kiyai pembelajar bagi para ulama dan umat. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, ini enggan (menolak) dicalonkan menjadi Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama dalam Muktamar NU ke-31 28/11-2/12-2004 di Boyolali, Jawa Tengah.
KH Achmad Mustofa Bisri, akrab dipanggil Gus Mus, ini mempunyai prinsip harus bisa mengukur diri. Setiap hendak memasuki lembaga apapun, ia selalu terlebih dahulu mengukur diri. Itulah yang dilakoninya ketika Gus Dur mencalonkannya dalam pemilihan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama pada Muktamar NU ke-31 itu.
Saya harus bisa mengukur diri sendiri. Mungkin lebih baik saya tetap berada di luar, memberikan masukan dan kritikan dengan cara saya, jelas alumnus Al Azhar University, Kairo (Mesir), ini, yang ketika kuliah mempunyai hobi main sepakbola dan bulutangkis. Setelah tak lagi punya waktu meneruskan hobi lamanya, ulama ini lalu menekuni hobi membaca buku sastra dan budaya, menulis dan memasak, termasuk masak makanan Arab dengan bumbu tambahan.
Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944, dari keluarga santri. Kakeknya, Kyai Mustofa Bisri adalah seorang ulama. Demikian pula ayahnya, KH Bisri Mustofa, yang tahun 1941 mendirikan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, adalah seorang ulama karismatik termasyur.
Ia dididik orangtuanya dengan keras apalagi jika menyangkut prinsip-prinsip agama. Namun, pendidikan dasar dan menengahnya terbilang kacau. Setamat sekolah dasar tahun 1956, ia melanjut ke sekolah tsanawiyah. Baru setahun di tsanawiyah, ia keluar, lalu masuk Pesantren Lirboyo, Kediri selama dua tahun. Kemudian pindah lagi ke Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di Yogyakarta, ia diasuh oleh KH Ali Maksum selama hampur tiga tahun. Ia lalu kembali ke Rembang untuk mengaji langsung diasuh ayahnya.
KH Ali Maksum dan ayahnya KH Bisri Mustofa adalah guru yang paling banyak mempengaruhi perjalanan hidupnya. Kedua kiyai itu memberikan kebebasan kepada para santri untuk mengembangkan bakat seni.
Kemudian tahun 1964, dia dikirim ke Kairo, Mesir, belajar di Universitas Al-Azhar, mengambil jurusan studi keislaman dan bahasa Arab, hingga tamat tahun 1970. Ia satu angkatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Menikah dengan Siti Fatimah, ia dikaruniai tujuh orang anak, enam di antaranya perempuan. Anak lelaki satu-satunya adalah si bungsu Mochamad Bisri Mustofa, yang lebih memilih tinggal di Madura dan menjadi santri di sana. Kakek dari empat cucu ini sehari-hari tinggal di lingkungan pondok hanya bersama istri dan anak keenamnya Almas.
Setelah abangnya KH Cholil Bisri meninggal dunia, ia sendiri memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, didampingi putra Cholil Bisri. Pondok yang terletak di Desa Leteh, Kecamatan Rembang Kota, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 115 kilometer arah timur Kota Semarang, itu sudah berdiri sejak tahun 1941.
Keluarga Mustofa Bisri menempati sebuah rumah kuno wakaf yang tampak sederhana tapi asri, terletak di kawasan pondok. Ia biasa menerima tamu di ruang seluas 5 x 12 meter berkarpet hijau dan berisi satu set kursi tamu rotan yang usang dan sofa cokelat. Ruangan tamu ini sering pula menjadi tempat mengajar santrinya.
Pintu ruang depan rumah terbuka selama 24 jam bagi siapa saja. Para tamu yang datang ke rumah lewat tengah malam bisa langsung tidur-tiduran di karpet, tanpa harus membangunkan penghuninya. Dan bila subuh tiba, keluarga Gus Mus akan menyapa mereka dengan ramah. Sebagai rumah wakaf, Gus Mus yang rambutnya sudah memutih berprinsip, siapapun boleh tinggal di situ.
Di luar kegiatan rutin sebagai ulama, dia juga seorang budayawan, pelukis dan penulis. Dia telah menulis belasan buku fiksi dan nonfiksi. Justru melalui karya budayanyalah, Gus Mus sering kali menunjukkan sikap kritisnya terhadap budaya yang berkembang dalam masyarakat. Tahun 2003, misalnya, ketika goyang ngebor pedangdut Inul Daratista menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, Gus Mus justru memamerkan lukisannya yang berjudul Berdzikir Bersama Inul. Begitulah cara Gus Mus mendorong perbaikan budaya yang berkembang saat itu.
Bakat lukis Gus Mus terasah sejak masa remaja, saat mondok di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Ia sering keluyuran ke rumah-rumah pelukis. Salah satunya bertandang ke rumah sang maestro seni lukis Indonesia, Affandi. Ia seringkali menyaksikan langsung bagaimana Affandi melukis. Sehingga setiap kali ada waktu luang, dalam bantinnya sering muncul dorongan menggambar. Saya ambil spidol, pena, atau cat air untuk corat-coret. Tapi kumat-kumatan, kadang-kadang, dan tidak pernah serius, kata Gus Mus, perokok berat yang sehari-hari menghabiskan dua setengah bungkus rokok.
Gus Mus, pada akhir tahun 1998, pernah memamerkan sebanyak 99 lukisan amplop, ditambah 10 lukisan bebas dan 15 kaligrafi, digelar di Gedung Pameran Seni Rupa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Kurator seni rupa, Jim Supangkat, menyebutkan, kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis. Kesannya ritmik menuju zikir membuat lukisannya beda dengan kaligrafi. Sebagian besar kaligrafi yang ada terkesan tulisan yang diindah-indahkan, kata Jim Supangkat, memberi apresiasi kepada Gus Mus yang pernah beberapa kali melakukan pameran lukisan.
gm-besurban
Sedangkan dengan puisi, Gus Mus mulai mengakrabinya saat belajar di Kairo, Mesir. Ketika itu Perhimpunan Pelajar Indonesia di Mesir membikin majalah. Salah satu pengasuh majalah adalah Gus Dur. Setiap kali ada halaman kosong, Mustofa Bisgus musri diminta mengisi dengan puisi-puisi karyanya. Karena Gus Dur juga tahu Mustofa bisa melukis, maka, ia diminta bikin lukisan juga sehingga jadilah coret-coretan, atau kartun, atau apa saja, yang penting ada gambar pengisi halaman kosong. Sejak itu, Mustofa hanya menyimpan puisi karyanya di rak buku.
Namun adalah Gus Dur pula yang mengembalikan Gus Mus ke habitat perpuisian. Pada tahun 1987, ketika menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Gus Dur membuat acara Malam Palestina. Salah satu mata acara adalah pembacaan puisi karya para penyair Timur Tengah. Selain pembacaan puisi terjemahan, juga dilakukan pembacaan puisi aslinya. Mustofa, yang fasih berbahasa Arab dan Inggris, mendapat tugas membaca karya penyair Timur Tengah dalam bahasa aslinya. Sejak itulah Gus Mus mulai bergaul dengan para penyair.
Sejak Gus Mus tampil di Taman Ismail Marzuki, itu kepenyairannya mulai diperhitungkan di kancah perpuisian nasional. Undangan membaca puisi mengalir dari berbagai kota. Bahkan ia juga diundang ke Malaysia, Irak, Mesir, dan beberapa negara Arab lainnya untuk berdiskusi masalah kesenian dan membaca puisi. Berbagai negeri telah didatangi kyai yang ketika muda pernah punya keinginan aneh, yakni salaman dengan Menteri Agama dan menyampaikan salam dari orang-orang di kampungnya. Untuk maksud tersebut ia berkali-kali datang ke kantor sang menteri. Datang pertama kali, ditolak, kedua kali juga ditolak. Setelah satu bulan, ia diizinkan ketemu menteri walau hanya tiga menit.
Kyai bertubuh kurus berkacamata minus ini telah melahirkan ratusan sajak yang dihimpun dalam lima buku kumpulan puisi: Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (1988), Tadarus Antologi Puisi (1990), Pahlawan dan Tikus (1993), Rubaiyat Angin dan Rumput (1994), dan Wekwekwek (1995). Selain itu ia juga menulis prosa yang dihimpun dalam buku Nyamuk Yang Perkasa dan Awas Manusia (1990).
Tentang kepenyairan Gus Mus, Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri menilai, gaya pengucapan puisi Mustofa tidak berbunga-bunga, sajak-sajaknya tidak berupaya bercantik-cantik dalam gaya pengucapan. Tapi lewat kewajaran dan kesederhanaan berucap atau berbahasa, yang tumbuh dari ketidakinginan untuk mengada-ada. Bahasanya langsung, gamblang, tapi tidak menjadikan puisinya tawar atau klise. Sebagai penyair, ia bukan penjaga taman kata-kata. Ia penjaga dan pendamba kearifan, kata Sutardji.
Kerap memberi ceramah dan tampil di mimbar seminar adalah lumrah bagi Gus Mus. Yang menarik, pernah dalam sebuah ceramah, hadirin meminta sang kiai membacakan puisi. Suasana hening. Gus Mus lalu beraksi: Tuhan, kami sangat sibuk. Sudah.
Sebagai cendekiawan muslim, Gus Mus mengamalkan ilmu yang didapat dengan cara menulis beberapa buku keagamaan. Ia termasuk produktif menulis buku yang berbeda dengan buku para kyai di pesantren. Tahun 1979, ia bersama KH M. Sahal Mahfudz menerjemahkan buku ensiklopedia ijmak. Ia juga menyusun buku tasawuf berjudul Proses Kebahagiaan (1981). Selain itu, ia menyusun tiga buku tentang fikih yakni Pokok-Pokok Agama (1985), Saleh Ritual, Saleh Sosial (1990), dan Pesan Islam Sehari-hari (1992).
Ia lalu menerbitkan buku tentang humor dan esai, Doaku untuk Indonesia? dan Ha Ha Hi Hi Anak Indonesia. Buku yang berisi kumpulan humor sejak zaman Rasullah dan cerita-cerita lucu Indonesia. Menulis kolom di media massa sudah dimulainya sejak muda. Awalnya, hatinya panas jika tulisan kakaknya, Cholil Bisri, dimuat media koran lokal dan guntingan korannya ditempel di tembok. Ia pun tergerak untuk menulis. Jika dimuat, guntingan korannya ditempel menutupi guntingan tulisan sang kakak. Gus Mus juga rajin membuat catatan harian.
Seperti kebanyakan kyai lainnya, Mustofa banyak menghabiskan waktu untuk aktif berorganisasi, seperti di NU. Tahun 1970, sepulang belajar dari Mesir, ia menjadi salah satu pengurus NU Cabang Kabupaten Rembang. Kemudian, tahun 1977, ia menduduki jabatan Mustasyar, semacam Dewan Penasihat NU Wilayah Jawa Tengah. Pada Muktamar NU di Cipasung, Jawa Barat, tahun 1994, ia dipercaya menjadi Rais Syuriah PB NU.
Enggan Ketua PB NU
Kesederhanaannya telah memberi warna baru pada peta perjalanan kehidupan sosial dan politik para ulama. Ia didorong-dorong oleh Gus Dur dan kawan-kawan dari kelompok NU kultural, untuk mau mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PB NU pada Muktamar NU ke-31 tahun 2004, di Boyolali, Jawa Tengah. Tujuannya, untuk menandingi dan menghentikan langkah maju KH Hasyim Muzadi dari kelompok NU struktural. Kawan karib Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir, ini dianggap salah satu ulama yang berpotensi menghentikan laju ketua umum lama. Namun Gus Mus justru bersikukuh menolak.
Alhasil, Hasyim Muzadi mantan calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dari PDI Perjuangan, pada Pemilu Preisden 2004, itu terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Tanfidziah berpasangan dengan KH Achmad Sahal Makhfud sebagai Rois Aam Dewan Syuriah PB NU. Muktamar berhasil meninggalkan catatan tersendiri bagi KH Achmad Mustofa Bisri, yakni ia berhasil menolak keinginan kuat Gus Dur, ulama kontroversial.
Ternyata langkah seperti itu bukan kali pertama dilakukannya. Jika tidak merasa cocok berada di suatu lembaga, dia dengan elegan menarik diri. Sebagai misal, kendati pernah tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah tahun 1987-1992, mewakili PPP, demikian pula pernah sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), mantan Rois Syuriah PB NU periode 1994-1999 dan 1999-2004 ini tidak pernah mau dicalonkan untuk menjabat kembali di kedua lembaga tersebut. Lalu, ketika NU ramai-ramai mendirikan partai PKB, ia tetap tak mau turun gelanggang politik apalagi terlibat aktif di dalamnya.
Demikian pula dalam Pemilu Legislatif 2004, meski namanya sudah ditetapkan sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Tengah, ia lalu memilih mengundurkan diri sebelum pemilihan itu sendiri digelar. Ia merasa dirinya bukan orang yang tepat untuk memasuki bidang pemerintahan. Ia merasa, dengan menjadi wakil rakyat, ternyata apa yang diberikannya tidak sebanding dengan yang diberikan oleh rakyat. Selama saya menjadi anggota DPRD, sering terjadi pertikaian di dalam batin saya, karena sebagai wakil rakyat, yang menerima lebih banyak dibandingkan dengan apa yang bisa saya berikan kepada rakyat Jawa Tengah, kata Mustofa mengenang pengalaman dan pertentangan batin yang dia alami selama menjadi politisi.
Dicalonkan menjadi ketua umum PB NU sudah seringkali dialami Gus Mus. Dalam beberapa kali mukhtamar, namanya selalu saja dicuatkan ke permukaan. Ia adalah langganan “calon ketua umum” dan bersamaan itu ia selalu pula menolak. Di Boyolali 2004 namanya digandang-gandang sebagai calon ketua umum. Bahkan dikabarkan para kyai sepuh telah meminta kesediaannya. Sampai-sampai utusan kyai sepuh menemui ibunya, Marafah Cholil, agar mengizinkan anaknya dicalonkan. Sang ibu malah hanya menjawab lugas khas warga ulama NU, Mustofa itu tak jadi Ketua Umum PB NU saja sudah tak pernah di rumah, apalagi kalau menjadi ketua umum. Nanti saya tak pernah ketemu.
Gus Mus sendiri yang tampak enggan dicalonkan, dengan tangkas menyebutkan, Saya mempunyai hak prerogatif untuk menolak, ucap pria bertutur kata lembut yang sesungguhnya berkawan karib dengan Gus Dur selama belajar di Kairo, Mesir. Saking karibnya, Gus Mus pernah meminta makan kepada Gus Dur selama berbulan-bulan sebab beasiswanya belum turun-turun. Persahabatan terus berlanjut sampai sekarang. Kalau Gus Dur melawat ke Jawa Timur dan singgah di Rembang, biasanya mampir ke rumah Gus Mus. Sebaliknya, bila dia berkunjung ke Jakarta, sebisa-bisanya bertandang ke rumah Gus Dur. Selain saling kunjung, mereka tak jarang pula berkomunikasi melalui telepon.***

Kamis, 03 November 2016

Calender my wife 1980

minggu

Kalenderq

minggu
seninselasarabukamisjumatsabtu2526272829301
pahing
2
pon
3
wage
4
kliwon
5
legi
6
pahing
7
pon
8
wage
9
kliwon
10
legi
11
pahing
12
pon
13
wage
14
kliwon
15
legi
16
pahing
17
pon
18
wage
19
kliwon
20
legi
21
pahing
22
pon
23
wage
24
kliwon
25
legi
26
pahing
27
pon
28
wage
29
kliwon
30
legi
31
pahing
12345

Sejarah punden desa keben

LEGENDA KI AGENG NGALAS KEBEN

Sekilas Sejarah Majapahit 
Setelah runtuhnya kerajaan Singosari, dengan berbagai kekuatan yang dihimpun oleh Raden Wijaya di awal tahun 1286 Masehi, akhirnya Jaka sesuruh atau Raden wijaya bersama para punggawanya berusaha mendirikan sebuah kerajaan di Pulau Jawa bagian timur, yang kemudian hari kerajaan tersebut dikenal dengan nama kerajaan Majapahit.
Tepatnya pada tanggal 15 bulan kartika – tahun 1215 saka, atau  bertepatan pada tanggal 10 November – tahun 1293 Masehi, kerajaan Majapahit secara resmi brdiri di pulau Jawa dan Raden Wijaya menjadi raja pertama kerajaan Majapahit, dengann menyandang gelar sebagai prabu Bratana Kerta – Rajasa Giri Wardhana.
Masa – masa puncak kejayaan Majapahit muncul ketika kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang raja bernama Hayam Wuruk. Atas kesetiaan dan perjuangan Maha Patihnya Gajah Mada, kerajaan Majapahit berkisar tahun 1364 Masehi berhasil menguasai seluruh tanah jawa – sumatra, dan beberapa tahun kemudian maha patihnya Gajah Mada memperluas wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke daerah Asia Tenggara.
Setelah  meninggalnya Sri Baduga Hayam Wuruk pada tahun 1389 Masehi, kepemimpinan kerajaan Majapahit mulai diperintah oleh seorang raja yang bergelar Brawijaya I hingga sampai kepada Brawijaya V.
Brawijaya V yang memiliki nama asli Raden Alit atau Bhre kertabumi merupakan raja terakhir semenjak berdirinnya kerajaan Majapahit.
Brawijaya V saat memerintah kerajaan Majapahit memiliki banyak sekali garwo selir yang jumlahnya mencapai kurang lebih 43 garwo selir. Sehingga putra – putri Brawijaya V saat itu jumlahnya mencapai lebih dari dua kali lipat jumlah garwo selir atau berkisar lebih dari 90 keturunan. 

Bagus Mas Syuro Pandan 

Salah satu daftar nama dari garwo selir Brawijaya V adalah Nyai Mas Sekar Pandan Sari. Dari pernikahan tersebut mereka diberi karunia dua orang anak bernama Bagus Mas Syuro Pandan dan Ayu Mas Sekar Pandan Wangi. 
Dan Bagus Mas Syuro Pandan dikemudian hari era awal pergerakan Islam Wali Songo di daerah jawa bagian utara khusunya dikadipaten Pati sangat masyhur disebut sebagai ki Ageng Ngalas Keben. Yang saat ini makamnya berada di desa keben, kecamatan Tambakromo, kabupaten Pati – Jawa Tengah.
Sebagai putra Brawijaya V, Bagus Mas Syuro Pandan di usia   dewasa secara aktif mempelajari teknik perang dan ilmu pemerintahan. Apalagi pada masa itu kerajaan Majapahit sedang menghadapi berbagai pemberontakan dibeberapa wilayah kekuasaanya.
Suatu hari terjadilah insiden perselisihan sengit antara Brawijaya V dengan salah satu pejabat elit dikerajaan Majapahit bernama demang Suryo Ngalam. Dari perseteruan antar dua kubu yang tidak kunjung padam itulah, demang suryo Ngalam dengan simbul kesaktian tombak payung naga dan di bantu oleh beberapa kelompok pemberontak menghimpun kekuatan diluar istana dengan tujuan akan memberontak dan menyerang Majapahit, sekaligus membunuh sang Brawijaya V.
Setelah melihat kekuatan yang dihimpun demang Suryo Ngalam sangat membahayakan keselamatan istana Majapahit, akhirnya sang raja mengutus beberapa puterannya menumpas pemberontak pimpinan Demang Suryo Ngalam.
Di antara nama – nama putera yang diutus sang Raja saat itu, dua diantarannya bernama bagus Mas Syuro Pandan dan Lembu Kanigoro ( Betoro Katong ). Dengan kesetiaan dan bekal teknik perang yang handal, akhirnya para putera istana majapahit mampu menumpas para pemberontak yang dipelopori oleh sang Demang.
Demang Suryo ngalam akhirnya tewas di medan pertempuran, sedangkan tombak payung naga menjadi simbul kesaktiannya dapat direbut dan dibawa keistana untuk diberikan kepada ayahanda mereka Prabu Brawijaya V.
Atas keberhasilan para putera puterinya dalam mengemban tugas kerajaan, dengan berbangga hati sang Raja memberikan penghargaan kepada mereka, di antarannya Lembu Kanigoro ( Betoro Katong ) diberi kepercayaan memiliki tombak sakti payung naga, dan Bagus Mas Syuro Pandan di angkat menjadi pejabat elit istana kerajaan dengan menyandang gelar sebagai kanjeng Noto Sastro Wijoyo Syardulo Kembar.

Peranan Bagus Mas Syuro Pandan Saat Majapahit Runtuh

Istilah Syardulo kembar ( macan kembar ) disamping sebagai gelar yang dimiliki oleh Bagus Mas Syuro Pandan ternyata dikemudian hari di sinyalir bahwa Syardulo Kembar adalah salah satu nama pusaka ampuh kerajaan Majapahit yang diberikan secara rahasia oleh sang raja kepada Bagus Mas Syuro Pandan sebelum runtuhnya Majapahit.
Pada masa diangkatnya Bagus Mas Syuro Pandan menjadi pejabat elit istana majapahit, pergerakan Islam yang dibawa oleh Para Wali Songo ketika itu sudah memiliki pengaruh yang sangat kuat dilingkup istana ataupun diluar wilayah istana majapahit.
Apalagi ibunda lembu Kanigoro ( Betoro Katong ) istri dari Brawijaya V yang bernama Dewi Campa adalah seorang muslimah. Bahkan Lembu Kanigoro sendiri sejak kecil sudah beragama Islam, meskipun sang Prabu Brawijaya V masih memeluk agama Hindu akan tetapi sang raja tidak pernah melarang keluargannya ataupun rakyatnya memeluk agama islam.
Kedekatan Bagus Mas Syuro Pandan dengan Lembu Kanigoro yang terjalin semenjak bertugas  menumpas pemberontak Demang Suryo Ngalam, menjadikan Bagus Mas Syuro Pandan memiliki minat belajar tentang ajaran Islam. Namun ketika itu Bagus Mas Syuro
 Pandan yang masih beragama Hindu belum bersedia berpindah agama Islam, dikarenakan  ibundannya yang bernama Nyai Mas Sekar Pandan Sari saat itu termasuk penganut ajaran Hindu yang sangat taat di lingkup istana kerajaan.
Pada awal tahun 1400 saka atau 1478 masehi, pemberontakan yang terjadi dilingkup kerajaan Majapahit semakin tidak bisa dibendung lagi, pengaruh sang raja dilingkup istana mulai melemah, para pejabat elit kerajaan berangsur – angsur lari dari istana demi menyelamatkan diri.
Dengan ini tandai “Sirno Ilang Kertaning Bumi” tepat pada akhir tahun 1478 masehi, kerajaan majapahit akhirnya runtuh, sang raja bersama para garwo selir dan putera – puteri raja keluar dari ancaman para pemberontak.
Sebagian besar keluarga Istana ada yang lari bepencar dari sang raja, dan sebagian lagi ikut bersama Brawijaya V bersembunyi digunung lawu. Yang ketika itu wilayah gunung lawu terkenal gawat dan sama sekali belum pernah di jamah oleh manusia. Maka sangatlah tepat bagi Brawijaya V dan keluargannya bersembunyi digunung lawu, karena tidak mungkin para pemberontak memiliki nyali mengejar mereka digunung yang angker dan penuh misteri tersebut.
Pada masa pelarian keluarga besar istana Majapahit ke Gunung Lawu, Bagus Mas Syuro Pandan bisa dikatakan sebagai salah satu laskar garda depan yang menjadi ujung tombak keselamatan keluarga Istana dari kejaran para musuh.
Bahkan pernah suatu ketika seorang adipati cepu bersama prajuritnya sempat memiliki untuk mengepung keluarga Brawijaya V digunung lawu. Namun sebelum adipati cepu sampai dilereng gunung lawu. Sang putera raja majapahit Bagus Mas Syuro Pandan Melalui bekal kesaktian pusaka  Syardulo kembar, menghimpun seluruh harimau yang berada digunung lawu , harimau yang berjumlah ratusan –pun berkumpul menjadi satu, tunduk dibawah perintah Bagus Mas Syuro Pandan mereka diajak turun gunung untuk menyerang adipati cepu dan prajuritnya. Demi menggagalkan perburuan mereka terhadap keluarga istana.
Setelah melihat Bagus Mas Syuro Pandan memegang pusaka ampuh Majapahit yang dijuluki Syardulo kembar, belum lagi melihat Bagus Mas Syuro Pandan membawa pasukan harimau beringas yang berjumlah ratusan, menjadikan adipati cepu dan prajuritnya miris dan ketakutan sendiri. Hingga sebelum terjadi pertempuran merekapun menyerah paksa dan kemudian kembali ke cepu tanpa membawa hasil. Sehingga sang raja dan keluarga istana dapat kembali dengan selamat dari perburuan mereka atas jasa Bagus Mas Syuro Pandan.
Ketika keluarga Istna dan sang Parbu Brawijaya V dirasa aman dalam persembunyiannya digunung lawu, sang prabu mengutus beberapa punggawa dan anak – anaknya turun gunung, untuk babat alas diwilayah baru demi meneruskan kelestarian keturunan Majapahit di pulau Jawa.
Dan akhirnya Bagus Mas Syuro bersama ibunnya Nyai Mas Sekar Pandan sari termasuk adik kandungnya Ayu Mas Pandan Wangi yang dianggap kuat untuk melanjutkan perjuangan majapahit, juga diutus untuk turun gunung, dengan membawa perintah membuka wilayah baru ( babat alas ) dibagian jawa bagian utara.
Perjalanan  Bagus Mas Syuro Pandan Bertemu Gurunnya
Setelah mendapat perintah babat alas, akhirnnya Bagus Mas Syuro Pandan bersama ibunnya Nyai Mas Sekar Pandan sari termasuk adik kandungnya Ayu Mas Pandan Wangi akhirnya turun gunung dan berpisah dengan sang Prabu Brawijaya V, berjalan menuju ke arah utara pulau jawa dengan membawa bekal hidup secukupnya.
Meskipun belum beragama Islam, namun ketertarikannya dalam mempelajari ajaran Islam sangatlah kuat, hingga membuat Bagus Mas Syuro Pandan berniat ingin mulai menemui salah satu tokoh Wali songo, dengan harapan selain ingin mendapatkan pengayoman dengan kata lain Bagus Mas Syuro pandan sangat berharap bisa belajar tentang Islam dari wali Songo. Namun dilain pihak dirinnya tetap bertekat membawa amanah  saang Prabu Brawijaya V untuk babat alas di wilayah jawa bagian utara.
Ditengah perjalanan tiba – tiba ibunda dan adiknya Bagus Mas Syuro Pandan sempat terserang wabah penyakit yang aneh disekujur kulit tubuhnya mereka muncul lebam warna merah kecoklatan, ditambah lagi suhu tubuhnya makin panas dan terlihat sangat menyiksa ibu serta adiknya.
Melihat kondisi ibu dan adiknnya sakit seperti itu Bagus Mas Syuro Pandan sangatlah panik, dan bertekat akan mencarikan obat untuk ibu dan adiknya. 
Sebelum berangkat mencari kesembuhan ibu dan asiknya, terlebih dahulu Bagus Mas Syuro pandan mencari tempat persembunyian yang paling aman untuk merak berdua. Kemudian ditemukanlah sebuah goa ditengah hutan yang disinyalir  terletak diwilayah kekuasaan kadipaten Pati. 
Setelah itu ibu dan asiknya terlihat aman didalam gua, baru Bagus Mas Syuro pandan keluar gua, sewaktu dalam perjalanannya, Bagus Mas Syuro pandan bertemu dengan rombongan kuda yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang.
Dalam benak Bagus Mas Syuro pandan mengira mereka adalah kelompok pasukan pemberontak kerajaan majapahit, tanpa banyak berpikir dan merasa memiliki keampuhan pusaka Syardulo kembar, Bagus Mas Syuro pandan langsung menantang rombongan berkuda tersebut untuk diajak bertanding melawan dirinnya.
Anehnya, justru rombongan berkuda tersebut tidak terlihat panik dan tidak menanggapi tantangan tersebut, justru salah satu penunggang kuda yang terlihat wajahnya putih bersih dan bersinar berkata kepadannya “ wahai kisanak, aku bersama rombonganku sedang mengadakan perjalanan pulan dari demak menuju gresik, aku bukanlah pemberontak kerajaan Majapahit, ketahuilah, justru saat ini ibu dan adikmu yang sedang berada di dalam gua membutuhkan pertolongan dan kesembuhan”.
Mendengar ucapan itu, sontak Bagus Mas Syuro pandan kaget, dirinnya  tidak habis pikir kenapa orang itu tahu tentang suatu perkara yang sedang dialaminnya. Dirinnya pun menyakini bahwa orang tersebut pasti memiliki keampuhan yang luar biasa. Akhirnnya emosinnya secara berangsur –angsur mulai merada.

Kemudian sosok penunggang kuda berwajah putih tersebut berkata kembali “perkenalkan kisanak, namaku Ibrahim As – samar-qandy, dan mereaka bersamaku adalah murid – muridku”.
Mendengarkan ucapan tersebut, Bagus Mas Syuro pandan gemetar, luluh dan spontan bersujud di hadapan seseorang yang menyebut dirinya Ibrahim As – Samar-qandy, karena dia teringat bahwa dulu sahabat sekaligus saudarannya yang bernama kebo kanigoro ( betoro katong ) pernah bercerita bahwa salah satu nama tokoh wali songo yang sangat disegani ditanah jawa adalah kanjeng sunan gresik yang mempunyai nama asli Syekh Maulana Makhdum Ibrahim Syamarakandi. Seorang ulama Besar dan tabib ampuh anak dari syekh Jumadil Kubro. Rupanya Niat Bagus Mas Syuro pandan untuk bertemu salah satu tokoh wali songo rupanya terkabulkan juga. 
Dengan penuh penyesalan Bagus Mas Syuro pandan minta ampun kepada Beliau. Justru dengan kemuliaan dan kerendahan hati seorang waliyullah, kanjeng sunan gresik malah menawarkan diri membantu menyembuhkan ibu dan adiknya yang saat itu sedang diserang oleh wabah penyakit yang penuh misteri tersebut.
Singkat cerita, akhirnya kanjeng sunan gresik, meminta Bagus Mas Syuro pandan mengantarkan beliau dan murid – muridnya menuju gua dimana ibu dan adiknya sedang membutuhkan pertolongan.
Setelah sampai di gua, kanjeng sunan gresik mengambil air yang berada di mulut gua yang kemudian air tersebut diberikan kepada Ayu mas pandan wangi dan Nyai mas sekar pandan sari.
Setelah air tersebut diminum oleh mereka berdua, melalui karomah yang dimiliki kanjeng sunan secara perlahan – lahan ibu dan adik Bagus Mas Syuro pandan dapat sembuh dari penyakit yang sebelumnya diderita oleh mereka, sebagai rasa terimakasih saat itu juga Bagus Mas Syuro pandan, Nyai mas sekar pandan sari dan Ayu mas pandan wangi meminta kanjeng sunan membimbing mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmilah mereka memeluk agama Islam atas dasar keinginannya sendiri.
Gua dan aliran sungai yang berada tempat tersebut adalah saksi bisu dimana keluarga istana Majapahit telah resmi masuk Islam. Kanjeng sunan gresik merasa bersyukur dan bahagia. Dalam rangka untuk mewujudkan rasa syukur itu kanjeng sunan gresik berkata “ gua dan sungai ini merupakan saksi dimana mereka para keluarga Istana Majapahit mendapat kemenangan dari Allah SWT. Ketahuilah suatu hari nanti gua ini akan banyak dikunjungi orang, karena Atas ijin Alloh, sungai yang mengalir di mulut gua ini nantinya dapat di gunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit” demikian sabda Kanjeng Sunan terhadap tempat yang penuh berkah tersebut. Sedangkan gua tersebut. Sedangkan gua tersebut di kemudain hari di sebut dengan Gua Wareh, yang berasal dari kata Warisane Poro Linuweh (Peninggalannya Wali berkaromah).
Tidak disangka ketiga mu’alaf tersebut tiba-tiba memiliki inisiatif ingin belajar Islam lebih daam lagi sekaligus berminat ingin menjadi sepenuhnya kepada Kanjeng Sunan Gresik, akan tetapi beliau melarang meraka, karena Brawijaya V terlebih dahulu memberi amanah kepada mereka untuk babat alas dan hal itu harus diwujudkan  karena dalam ajaran islam jika seseorang sudah menerima amanah maka harus di tepati dengan sekuat tenaga.
Singkat cerita Kanjeng Sunan Gresik memberi perintah kepada mereka untuk mewujudkan perintah Brawijaya V dan berjalan menuju utara untuk berguru kepada Putera Syekh Malaya saat itu berada di gunung muria.
Syekh Malaya adalah nama lain dari Kanjeng Sunan Kalijaga, sedangkan anaknya yang di sedang berada di gunung muria adalah Raden Umar Said atau Kanjeng Sunan Muria..
Setelah bertemu Kanjeng Sunan Muria, meskipun saat itu umur Kanjeng Sunan jauh lebih muda dari usia Bagus Mas Syuro Pandan, namun Bagus Mas Syuro Pandan atau Kanjeng Noto Wijoyo Syardulo Kembar tetap setia berguru dan mengabdi kepada Kanjeng Sunan Muria dengan tulus dan ikhlas demi menepati janji amanah yang telah di berikan kepadanya dari Kanjeng Sunan Gresik.
Munculnya Nama Ki Ageng Ngalas Keben
Setelah berhasil menguasai ajaran Islam, Bagus Mas Syuro Pandan di jodohkan oleh Kanjeng Sunan Muria dengan salah satu anak santrinya yang bernama Dewi Siti Ambarsona, sekaligus memberi nama Islam kepada Bagus Mas Syuro Pandan dengan nama Syekh Ahmad.
Demi terselenggaranya syair Islam di pulau jawa, Bagus Mas Syuro Pandan bersama Istrinya Dewi Siti Ambarsona termasuk ibunda dan adiknya, dengan penuh semangat bahu membahu mereka mencari wilayah yang tepat (babat alas) untuk  tempat tinggal di wilayah hutan Tambak romo yang ketikaitu terjenal sangat gawat, apalagi konon kabarnya hutan tersebut berada dalam kekuasaan raja jin sakti bernama Gulu Kendeng, dimana prajurit berjumlah hingga ribuan.
Istana Gulu Kendeng tidak bisa di lihat oleh kasab mata, kecuali orang yang ampuj saja yang dapat menyaksikannya. Keampuhan Bagus Mas Syuro Pandan tidak berhenti hanya sekedar melihat istana jin  Gulu Kendeng saja, bahkan Bagus Mas Syuro Pandan memiliki kemampuan bernegosiasi langsung dengan jin Gulu Kendeng sebelum babat alas di wilayah tersebut di mulai.
Ternyata Gulu Kendeng sendiri sudah terlebih dahulu mengenal Bagus Mas Syuro Pandan. Gulu Kendeng, sosok jin penguasa hutan Tambak romo itu tahu bahwa sesungguhnya Bagus Mas Syuro Pandan adalah putera raha Majapahit Brawijaya V.
Singkat cerita negoisasi antara Gulu Kendeng dengan Bagus Mas Syuro Pandan sempat a lot, yang intinya Gulu Kendeng melarang keluarga istana Majapahit babat alas di hutan tersebut. Namun berkat kecerdikan dan keampuhan Bagus Mas Syuro Pandan, akhirnya Gulu Kendeng luluh dan mempersilahkan murid Kanjeng Sunan Muria tersebut membuka wilayah tempat tinggal di daerah kekuasaannya.
Beberapa alasan yang menjadikan Gulu Kendeng luluh adalah saat Bagus Mas Syuro Pandan memberikan pusaka ampuh Majapahit Kiyai Syardulo Kembar kepadanya secara Cuma-Cuma. Selain itu Bagus Mas Syuro Pandan bersedia menghimpun seluruh harimau yang berada diseluruh wilayah hutan Kadipaten Pati agar mereka mengabdi di istana kerajaannya. Dan semua itu di buktikan secara nyata oleh putra Brawijawa V tersebut di hadapannya.
Ketka masih di hadapan Raja Jin Gulu Kendeng. Bagus Mas Syuro Pandan dengan ke ampuhannya mendatangkan ratusan macan dari berbagai arah hutan di wilayah Kadipaten Pati. Ratusan macab-pun berdatangan, kumpul menjadi satu dan tunduk dihadapan Bagus Mas Syuro Pandan, kemudian macan-macan tersebut di perintah untuk taat dan setia kepada raja Jin Gulu Kendeng. Sepontan ratusan macan mengaum seperti memberi isyarat siap melaksanakan perintahnya.
Melihat kesaktian dan kebijaksanaan Bagus Mas Syuro Pandan yang sangat luar biasa, belum lagi pusaka Kiyai Syardulo Kembar yang menjadi simbul kesaktiannya diberikan secara Cuma-Cuma tanpa pamprih apapun, menjadikan Gulu Kendeng simpati dan berbalik arah, yang tadinya melarang malah justru akan mengerahkan prajuritnya membantu Bagus Mas Syuro Pandan alias Kanjeng Noto Sastro Wijoyo Syardulo Kembar untuk babat alas di wilayah hutan tambak romo. Dan dari keluarga keturuna Brawijaya V memulai hidup baru.
Pada masa wilayah kekuasaan Majapahit di tanah jawa sebelum runtuh, rupanya Kdipaten Pati termasuk dalam daftar pisuwan agung, artinya Kadipaten adalah wilayah kekuasaan Majapahit dan termasuk wilayah kadipaten yang di istimewakan oleh istana Majapahit, bahkan pada masa setelah runtuhnyakerajaan Majapahit, wilayah kekuasaan dan budaya kadipaten pati masih sepenuhnya di warnai dengan nuasa Majapahit. Sehingga Bagus Mas Syuro Pandan dan keluarganya semakin hari semakin betah tinggal di wilayah tersebut.
Akan tetapi demi mengelabihi musuh, Bagus Mas Syuro Pandan atau Kanjeng Noto Sastri Syardulo Kembar atau Syek Ahmad tetap menutupi identitasnya sebagai putera Brawijaya V. Di samping untuk penyelamatan diri, dirinya juga berharap dalam penyebaran agama Islam yang dibawah nantimya tidak menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat kadipaten pati yang saat itu secara keseluruhan belum sepenuhnya memeluk agama islam
Info kesaktian dan kemampuan Bagus Mas Syuro Pandan atau Kaneng Noto Sastro Syardulo Kembar dalam keberhasilannya bernegoisasi dengan raja jin Gulu Kendeng semakin lama semakin santer di bicarakan oleh masyarakat kadipaten pati. Yang akhirnya info tersebut di dengar oleh penguasa kadipaten pat yang bernama Raden Tambronegoro.
Sang Raden penguasa Kadipaten Pati akhirnya memanggil Bagus Mas Syuro Pandan untuk bertemu dengannya di dalam lingkup istana Kadipaten Pati. Setelah tahu Bagus Mas Syuro Pandan adalah putra keturunan Brawijaya V dan memiliki keberhasilan bernegosasi dengan  Gulu Kendeng penguasa hutan tambak romo, sang Raden merasa bangga dan langsung mengangkat Bagus Mas Syuro Pandan sebagai Guru Ajar Kasepuhan (Tokoh Spiritual) Kadipaten Pati. Hingga di kemudian hari banyak sekali masyarakat kadipaten. Hingga di kemudian hari banyak sekali masyarakat kadipaten pati berdatangan menemuinya sekaligus berguru kepadanya.
Selain menjabat sebagai Guru Ajar Kasepuhan, suatu hari Bagus Mas Syuro Pandan menerima hadiah dari penguasa Kadipaten Pati berupa pohon syakral peninggalan kerajaan Majapahit di sebut sebagai pohon keben.
Pohon keben di masa kerajaan Majapahit masih terdiri di pulau jawa adalah salah satu pohon yang sangat di syakralkan oleh masyarakat majapahit. Di samping pohon yang terbilang langka, unik dan syakral. Pohon tersebut dulunya di jadikan sebagai simbul perdamaian antar kerajaan di pulau jawa.
Keberhasilan Bagus Mas Syuro Pandan dalam mendamaikan hubungan antara masyarakat kadipaten pati dengan wilayah kekuasaan keraton Jin Gulu Kendeng, merupakan dasar yang sangat tepat apabila dirinya menerima penghargaan pohon syakral kerajaan yang di beri julukan pohon keben.
Semenjak itu masyarakat kadipaten pati mulai menyebutkan sebagai Ki Ageng Ngalas Keben yang artinnya seorang Kesatria Linuwih yang memiliki keampuhan mempersatukan dan mendamaikan berbagai hubungan nyata dan mistis di wilayah kadipaten pati.
Dan kelak tempat tinggal Bagus Mas Syuro Pandan atau Kanjeng Noto Sastro Wijoyo Syardulo Kembar atau Ki Ageng Ngalas Keben atau Syekh Ahmad di namakan Tlatah Keben atau Desa Keben yang artinya Wilayah perdamaian.
Bila lambang kadipaten pati berupa keris rambut pinutung dan keluk kanigoro di jadikan simbul kekuasaan dan persatuan pemerintah pati. Maka keris Syardulo kembar dan pohon keben yang dimiliki Ki Ageng Ngalas Keben merupakan simbul tunduk dan patuhnya seorang tokoh kasepuhan kepada Kadipaten  Pati demi terselenggaranya pengayoman dan perdamaian.
Nasab Ki Ageng Ngalas Keben
Bagus Mas Syuro Pandan atau Kanjeng Noto Sastro Wijoyo Syardulo Kembar atau Syekh Ahmad atau Ki Ageng Ngalas Keben adalah Putera Brawijaya V Raja terakhir Kerajaan Majapahit. Ibunya bernama Nyai Mas Sekar Pandan Sari. Istrinya bernama Dewi Siti Ambarsona. Dan adiknya Bernama Ayu Mas Pandan Sari.
Wa-Allohu `Alam
Sumber Naskah :
1. Babat Tanah Jawa
2. Serat Kasepuhan Sejarah Brawijaya V
3. Babat Majapahit
4. Tooh Masyarakat dan Ulama Ahli Sejarah.